Visitor

Tampilkan postingan dengan label INVESTASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INVESTASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2018

Manajemen Investasi Part 5

SISTEM PEREKONOMIAN 

Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya kepada: 
Individu 
Organisasi 

Perbedaan sistem ekonomi setiap Negara, yaitu bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi dan dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrem tersebut. 

Sistem perekonomian Indonesia saat ini adalah sistem perekonomian nasional kerakyatan yang mulai berlaku sejak terjadinya reformasi sejak tahun 1998. 

Dalam sistem perekonomian kerakyatan, pemerintah hanya berperan sebagai pencipta iklim sehat yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya dunia usaha di Indonesia, sedangkan kegiatan ekonomi dipegang secara aktif oleh masyarakat. 

Secara umum ada 3 (tiga) macam sistem perekonomian yang dikenal di dunia, yaitu : 

Sistem Ekonomi Pasar (Kapitalisme) Di dalam sistem ini setiap orang diberi kebebasan untuk melaksanakan kegiatan perekonomian, baik dalam hal kegiatan menjual dan membeli barang yang mereka inginkan serta kebebasan dalam memiliki faktor-faktor produksi. 

Sistem Ekonomi Terencana (Sosialisme) Di dalam sistem ekonomi sosialis pemerintah diharuskan memiliki dan menggunakan seluruh faktor produksi, namun kepemilikkan pemerintah atas faktor-faktor produksi tersebut hanyalah sementara. 

Sistem Ekonomi Campuran Sistem ini timbul sebagai akibat dari kegagalan sistem ekonomi pasar yang terlalu ketat, demikian juga halnya dengan sistem ekonomi terencana, tidak mampu menghilangkan kelas-kelas dalam masyarakat sehingga muncullah sistem ekonomi campuran. 

Dampak Positif Pertumbuhan ekonomi global. Memiliki dampak positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Kondisi ekonomi AS dan Jepang sebagai proxi ekonomi dunia yang meningkat berpengaruh terhadap perkembangan ekspor Indonesia yang terus meningkat. 

Dimana setiap tahun Ekspor Indonesia mengalami peningkatan, Secara historis perkembangan kondisi ekspor Indonesia tersebut memiliki kaitan yang cukup erat dengan perkembangan ekonomi kedua negara tersebut. 

Laju penguatan pertumbuhan ekonomi AS, sampai saat ini meskipun sedikit melambat namun masih dalam trend yang terus meningkat. 

Perbaikan angka penyerapan tenaga kerja serta turunnya angka pengangguran AS. 

Menentukan daya beli konsumen dalam mengkonsumsi ekspor negara berkembang termasuk Indonesia. 

Dampak Negatif
Akibat dari krisis perekonomian global adalah pada sektor keuangan melalui aspek sentimen psikologis maupun akibat merosotnya likuiditas global.

Penurunan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Depresiasi nilai tukar rupiah .

Dalam logika ekonomi, ketika realisasi investasi tumbuh maka bisa berdampak terhadap lapangan pekerjaan, hingga meningkatkan penghasilan dan kemampuan daya beli masyarakat. Logika itu ternyata tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

Akumulasi realisasi investasi dalam enam bulan (semester I) 2017 adalah Rp 336,7 triliun atau lebih tinggi 12,9% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 298,1 triliun.

Industri ritel sebagai gambaran daya beli masyarakat jatuh, dengan pertumbuhan hanya 3% atau lebih rendah dari kondisi normal yang sebesar 12-14%. Sedangkan inflasi per Juli 3,88% (year on year/yoy). Berarti pertumbuhannya (ritel) di bawah inflasi, jadi netto inflasi malah bisa menciut.

Ekonomi Indonesia tumbuh stabil dengan 5,01% pada kuartal I-2017 dan proyeksi 5,1% pada semester I-2017. Meski ada perlambatan untuk industri ritel, baik penjualan maupun investasi.

Target investasi Indonesia sebesar Rp 678,8 triliun sampai akhir tahun bisa tercapai. Begitu juga dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,2%.

Struktur investasi saat ini banyak masuk ke sektor padat modal, sehingga kurangnya penyerapan tenaga kerja yang mengakibatkan pelemahan daya beli.

Kondisi Investasi Indonesia saat ini:
Ekonomi bergantung kepada bisnis confidence / keyakinan dunia usaha.

Kepastian dalam penerbitan regulasi, agar mengevaluasi kembali regulasi yang sudah diterbitkan.

Bilamana regulasi mengeluarkan kebijakan secara mendadak tanpa masa transisi akan mempengaruhi keyakinan dunia usaha dan akan menimbulkan ketidakpastian dan kecemasan pelaku ekonomi.

Dunia usaha saat ini lebih mengorientasikan dunia usaha untuk mengurangi lembur dan sungkan untuk keluar uang melatih pekerjanya.

Faktor lain penyebab Ekonomi melemah, antara lain.
Iklim, dimana beberapa daerah ada yang kekeringan dan ada yang kebanjiran.
Beberapa daerah ada yang terjadi bencana alam.
Penyakit yang melanda berbagai hewan di peternakan.
Suhu politik juga mempengaruhi ekonomi melemah.

Penyebab penurunan pertumbuhan Ekonomi Negara Berkembang:
Ketergantungan investasi dan penanaman modal dari pihak asing.
Naiknya harga minyak di dunia juga sangat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi negara berkembang.
Terhambatnya distribusi penyaluran bahan baku dan sumber daya alam yang lainnya.
Turunnya ekonomi rakyat di sebabkan daya beli yang kian berkurang, jika masyarakat tidak mampu memahami dan mengatur keuangannya sendiri.
Sumber Daya Manusia Yang Tidak Optimal dan masih kurangnya kualitas SDM.
Sumber Daya Alam Yang Kian Terbatas, karena menurunnya Kekayaan alam mineral, tambang, kekayaan laut, hasil hutan dan kesuburan tanah.
Kurangnya Pengetahuan dan Rendahnya Perkembangan Teknologi, dimana adanya pergantian pola kerja, percepatan proses dari pembangunan yang biasanya hanya mengandalkan kekuatan dan daya kerja manusia sekarang telah menggunakan berbagai mesin canggih.
Minimnya Sumber Daya Modal, kebanyakan modal berasal dari utang piutang dan dari berbagai investor asing yang nantinya akan memberatkan perekonomian di dalam negeri.
Sikap Masyarakat dan Sistem Sosial Yang Buruk, dimana beberapa kalangan ataupun koloni di masyarakat terkadang masih menolak adanya perubahan dan perkembangan IPTEK, sehingga akan berdampak di perkembangan sektor industri suatu Negara.

Selasa, 08 Mei 2018

Manajemen Investasi Part 4

RETURN INVESTASI

Metode Perhitungan Return Keuntungan bisa berasal dari pembagian dividen dan juga dari kenaikan harga, maka berkembang istilah Return yang artinya “Pengembalian”. Kata pengembalian mencakup seluruh pendapatan investasi yaitu dari dividen dan selisih kenaikan harga.

Return = (Harga Jual – Harga Beli + Deviden)/ Harga Beli

Example
Suatu saham dibeli dengan harga Rp 10.000. Setahun kemudian harga saham naik menjadi Rp 15.000 dan investor menjualnya. Dalam periode tersebut saham juga sudah membagikan dividen sebesr Rp 1000 yang sudah dinikmati oleh investor.

Jadi Return
Return = (Rp 15,000 – Rp 10,000 + Rp 1,000) / Rp 10,000 X 100%
Return = 60%, Jadi return dengan berinvestasi pada instrumen tersebut adalah sebesar 60%

Menghitung Total Return
Total Return, sebenarnya istilah Return itu sama dengan Total Return. Kata Total menekankan pada keseluruhan namun secara prinsip sebetulnya sama.

Ilustrasi suatu Investasi yang memiliki harga sebagai berikut:
  • Harga Akhir Tahun 2008 Rp 1000
  • Harga Akhir Tahun 2009 Rp 1200
  • Harga Akhir Tahun 2010 Rp 1500
  • Harga Akhir Tahun 2011 Rp 1725
  • Asumsi selama tahun2 tersebut tidak ada pembagian dividen.
Ditanyakan:
  1. Berapa total return tahun 2009 (Artinya beli di akhir 2008 jual di akhir 2009)
  2. Berapa pula total return tahun 2010 dan 2011
  3. Berapa total return selama 3 tahun (beli di akhir 2008 dan jual di akhir 2011)
Jawab
Dengan menggunakan rumus return di atas maka diperoleh:
  1. Return Tahun 2009 = Rp 1200 – Rp 1000 = Rp 200 dibagi Rp 1000 = 20%
  2. Return Tahun 2010 = Rp 1500 – Rp 1200 = Rp 300 dibagi Rp 1200 = 25%
  3. Return Tahun 2011 = Rp 1725 – Rp 1500 = Rp 225 dibagi Rp 1500 = 15%
  4. Total Return selama 3 tahun = Rp 1725 – Rp 1000 = Rp 725 dibagi Rp 1000 = 72.5%, Jadi total return dengan berinvestasi pada instrumen tersebut adalah selama 3 tahun sebesar 72,5%
Rata-rata Return, berapa besar rata-rata tingkat keuntunagn dari suatu investasi, dan rata-rata return dengan menggunakan 2 metode yaitu:
  • Arithmetic Mean (AM)
  • Geometric Mean (GM)
  • Logika
Metode Arithmetic Mean (AM) atau dalam bahasa Indonesia disebut Rata-rata Return Aritmatik / atau Rata-rata Return dengan membagi total return tersebut dengan jumlah tahunnya.

Example
Lihat contoh ilustrasi sebelumnya, dimana:
  1. Return Tahun 2009 = Rp 1200 – Rp 1000 = Rp 200 dibagi Rp 1000 = 20%
  2. Return Tahun 2010 = Rp 1500 – Rp 1200 = Rp 300 dibagi Rp 1200 = 25%
  3. Return Tahun 2011 = Rp 1725 – Rp 1500 = Rp 225 dibagi Rp 1500 = 15%
Maka Arithmetic Mean (AM) sebesar:
20% + 25% + 15% = 60% kemudian hasilnya dibagi 3 karena tiga tahun menjadi 20% per tahun, artinya rata-rata keuntungan per tahunnya dari suatu investasi sebesar 20%.

Geometric Mean (GM) atau Rata-rata Return Geometrik dengan menggunakan data sebelumnya adalah :
  1. Return Tahun 2009 = Rp 1200 – Rp 1000 = Rp 200 dibagi Rp 1000 = 20%
  2. Return Tahun 2010 = Rp 1500 – Rp 1200 = Rp 300 dibagi Rp 1200 = 25%
  3. Return Tahun 2011 = Rp 1725 – Rp 1500 = Rp 225 dibagi Rp 1500 = 15%
Maka Geometric Mean sebesar:
GM = (1+20%) x (1+25%) x (1+15%)
GM = 1,725, Hasilnya kemudian di akar pangkat 3 (sesuai jumlah tahun) kemudian hasilnya dikurangi 1. Hasil yang diperoleh adalah 19.9305%.

Artinya rata-rata keuntungan per tahunnya dari suatu investasi sebesar 19,9305%.

Uraian Jawaban:
GM = (1+20%) x (1+25%) x (1+15%) = 1,725,
GM = ∛ 1,725 = 1,199305 (Akar pangkat 3 sesuai jumlah tahun)
GM = 1,199305 – 1 = 0,199305 (Dikurangi angka 1)
GM = 0,199305 X 100%
GM = 19,9305%

Pembuktian, menggunakan Metode Bunga Berbunga / Compounding
AM GM Logika
Bunga 20,0000% 19,9305% 24,1667% Keterangan
2008 1000 1000 1000 Nilai 2008
2009    1.200,00    1.199,31    1.241,67 Nilai 2008 dibungakan
2010    1.440,00    1.438,33    1.541,74 Nilai 2009 dibungakan
2011    1.728,00    1.725,00    1.914,32 Nilai 2010 dibungakan

Penjelasan:
AM (Arithmetic Mean)
  • Nilai Rp 1.000,00 dibungakan 20% akan menjadi Rp 1.200,00 pada tahun selanjutnya
  • Nilai Rp 1.200,00 dibungakan 20% lagi akan menjadi 1.440,00 pada tahun selanjutnya
  • Nilai Rp 1.440,00 dibungakan 20% lagi akan menjadi 1.728,00
GM (Geometric Mean)
  • Nilai Rp 1000 dibungakan 19,9305% akan menjadi Rp 1.199,31 pada tahun selanjutnya
  • Nilai Rp 1.199,31 dibungakan 19,9305% lagi akan menjadi 1.438,33 pada tahun selanjutnya
  • Nilai Rp 1.438,33 dibungakan 19,9305% lagi akan menjadi 1725,00
Sementara perhitungan dengan cara logika sudah jelas salah karena akan menghasilkan angka yang jauh lebih besar dari seharusnya. Bahkan tidak ada nama ilmiah untuk cara ini.

Logika 2011 hasil akhir sebesar Rp 1,914,32, sedangkan return pada tahun 2011 sebesar Rp 1,725.

Pembuktian
Karena hasil Geometric Mean (GM) per tahun yang sama persis dengan Total Return selama 3 tahun, maka Geometric Mean (GM) juga disebut sebagai Annualized Return (Return yang Disetahunkan) atau sering juga disebut Compounded Return (karena jika bunga ber bunga, maka hasilnya sama dengan Total Returnnya atau sama sebesar Rp 1,725).

Senin, 07 Mei 2018

Manajemen Investasi Part 3

EVALUASI KINERJA PORTOFOLIO

Portofolio adalah sekumpulan atau kombinasi dua atau lebih jenis investasi dengan tingkat risiko dan keuntungan yang berbeda beda dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan risiko yang minim.

Tujuan melakukan investasi untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan risiko yang seminimal mungkin dan agar risiko investasinya tidak tinggi, diversifikasi investasi dari teori portofolio adalah salah satu caranya.

Teori portofolio menyarankan untuk berinvestasi tidak hanya pada satu jenis investasi saja. Namun beberapa jenis investasi. Baik yang sejenis ataupun tidak sejenis.

Tujuannya tentu untuk mengurangi risiko. Apabila satu investasi mengalami kerugian, maka akan ada inevstasi yang lain yang bisa menutupinya. Namun jika keputusan investasi hanya pada satu jenis investasi saja, jika investasi tersebut merugikan, maka habis sudah. Tidak ada yang tersisa, tidak ada yang bisa membackup menutupi kerugiannya.

Ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih dan dikombinasikan, antara lain:
  • Investasi dalam bentuk aktiva (aset) seperti membangun pabrik, ekspansi usaha, membeli properti dan lain lain.
  • Ada pula investasi yang berbentuk aset finansial seperti deposito, sekuritas yang bisa obligasi dan saham.
Khusus untuk portofolio aset sekuritas ada jasa manajemen investasi yang mengelola portofolio sekuritas secara kolektif dalam sekelompok investor (nasabah). Dan ada yang disebut dengan reksadana.

Portofolio paling tidak ada dua jenis investasi yang bisa dipilih investor. Untuk menyusun portofolio, investor bisa melakukan diversifikasi investasi (memilih beberapa jenis investasi) untuk mengurangi risiko. Risiko yang bisa tekan dari portofolio adalah risiko non sistematis.

Risiko investasi terdiri dari 2 (dua), yaitu:
  • Risiko sistematis
  • Risiko non sistematis.
Risiko sistematis (systematic risk) adalah risiko yang umumnya berasal dari luar perusahaan, bersifat makro. Berdampak pada semua perusahaan yang ada dipasar. Risiko ini cenderung lebih sulit untuk dihindari.
Contohnya risiko pasar, risiko finansial, risiko politik, risiko bunga dan risiko nilai tukar yang fluktuatif. Perubahan perubahan yang terjadi dipolitik misalnya, bisa mempengaruhi performa sebuah perusahaan. Dan itu tidak bisa dikendalikan oleh perusahaan.

Risiko non sistematis (unsystematic risk) risiko yang diakibatkan oleh perubahan yang terjadi pada mikro perusahaan tertentu. Hanya mempengaruhi perusahaan tersebut, tidak semua perusahaan bisa terdampak. Risiko non sistematis bisa diusahakan ditekan dengan portofolio.

Portofolio hanya mengurangi risiko, bukan menghilangkan risiko. Risiko tetap ada, namun bisa ditekan.
  • Semakin banyak jenis investasi yang dipilih, semakin kecil risiko investasi yang mengancam.
  • Tapi yang perlu diingat, banyaknya portofolio yang berlebih juga bisa berdampak buruk.
  • Portofolio yang gemuk atau berlebih akan menyebabkan biaya-biaya yang berlebih pula, maka keuntungan akan berkurang karena banyaknya biaya yang dikeluarkan.
  • Maka ada batasan batasan dalam menyusun portofolio investasi.
Selain itu tentu ada batasan dana yang dimiliki dalam berinvestasi diberbagai jenis investasi. Jenis investasi mana yang harus dipilih ?

Berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing masing instrumen investasi agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan risiko yang paling kecil?

Pembentukan Portofolio
Untuk melakukan diversifikasi investasi dalam bentuk portofolio, tidak bisa langsung menanamkan investasi kebeberapa instrumen investasi yang berbeda beda.

Namun ada beberapa hal hal yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu agar instrumen investasi yang akan dijadikan portofolio menghasilkan return yang maksimal / tidak merugikan.

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan portofolio seperti:
  • Modal (Capital)
  • Tujuan (Objective)
  • Waktu
  • Profil Risiko
Penjelasan:
  • Waktu , seberapa cepat keuntungan investasi yang akan diperoleh juga turut diperhitungkan. Apakah investasi berorientasi jangka panjang atau jangka pendek.
  • Profil Risiko, berkaitan dengan karakter investor. Pemilihan portofolio biasanya menyesuaikan degan preferensi profil dari investor. Secara umum, setidaknya ada 3 jenis karakter investor dalam berinvestasi. Ada tipe investor konservatif, moderat dan agresif.
Investor konservatif umumnya akan memilih instrumen investasi yang secara fundamental kondisinya bagus. Cenderung main aman dengan menghidar dari risiko. Tidak terlalu menyukai kondisi yang fluktuatif. Tipe konservatif umumnya akan berinvestasi dalam instrumen investasi yang memiliki pengembalian jangka panjang.

Investor moderat adalah investor yang mempunyai toleransi terhadap risiko yang lebih tinggi asalkan keuntungan yang diperoleh sepadan dengan risikonya. Tipe moderat cenderung mengambil risiko investasi yang sedang.

Sedangkan investor tipe agresif lebih suka tantangan. Cenderung aktif berspekulasi tentang investasi yang berisiko tinggi.

Dengan mengetahui karakter investor, maka portofolio yang dibangun akan berorientasi pada kepentingan investor itu sendiri. Sesuai dengan yang dikehendaki.

Apapun jenis investasi yang dipilih, setidaknya harus dilakukan dengan hati-hati dan lakukan evaluasi terhadap kinerja portofolio yang dijalankan, Setidaknya mengevaluasi kinerja portofolio.

Manfaat evaluasi kinerja porofolio:
  • Apakah portofolio yang dimiliki telah sesuai dengan apa yang diharapkan atau tidak.
  • Untuk bisa mengetahui instrumen investasi mana dalam portofolio yang miliki kinerja baik atau tidak.
  • Merevisi investasi dalam portofolio yang kurang menguntungkan.
Hal yang paling utama untuk evaluasi kinerja portofolio adalah RESIKO & RETURN.
  • Mengevaluasi apakah keuntungan yang diperoleh dari portofolio sesuai dengan risiko yang ada ?
  • Apakah keuntungan portofolio melebihi portofolio lainnya yang dijadikan patokan (benchmark) ?
Perlu diperhatikan dalam Evaluasi Kinerja Portofolio:
  • Melakukan perbandingan dengan portofolio lain dengan yang lain, dipergunakan sebagai patokan mana yang BAGUS / TIDAK BAGUS.
  • Apakah portofolio yang dimiliki menghasilkan keuntungan yang paling lebih tinggi atau lebih rendah dari portofolio investasi kita.
  • Karena portofolio yang dijalankan terdiri dari beberapa jenis investasi, ada yang bagus dan ada yang tidak bagus, evaluasi dan cari instrumen investasi yang memiliki kinerja yang kurang memuaskan untuk mengetahui apa penyebabnya.
  • Jika hasilnya ternyata tidak memuaskan, portofolio sebaiknya harus dirombak. Terlebih pada instrumen investasi yang “TIDAK BAGUS" diantara investasi yang “BAGUS”.
Dalam mengevaluasi kinerja portofolio, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, diantaranya:
  • Tingkat risiko dan return
  • Periode waktu
  • Penggunaan benchmark (tolak ukur)
  • Tujuan investasi
Tingkat Risiko dan Return
  • Semakin tinggi risiko, maka semakin juga tingkat keuntungan investasi yang diharapkan. Dalam mengevaluasi portofolio, apakah keuntungan yang diperoleh cukup memadai untuk bisa menutup risiko yang harus ditanggung.
  • Jangan sampai terjadi high risk, low return. Mendapatan keuntungan yang sedikit dari risiko yang investasi yang tinggi.
Periode Waktu
  • Periode pengembalian / return portofolio perlu diperhatikan. Misalkan dalam sebuah portofolio terdapat investasi saham A dan saham B. Sama sama menghasilkan return sebesar 10%. Saham A hanya memerukan waktu 5 tahun untuk menghasilkan keuntungan 10 % tersebut, Namun saham B perlu 7 tahun untuk return yang sama.
  • Saham B layak untuk dievaluasi, untuk dirombak bahkan dilepas digantikan dengan investasi yang lain.
Pengguanaan Benchmark
  • Ketika portofolio sudah dihitung risiko dan return-nya. Dan ketika hasilnya positif, misalkan portofolio secara umum menghasilkan return 10 %. Jangan berpuas dulu. Mengapa ?
  • Coba dibandingkan dulu dengan portofolio yang lain. Apakah return 10 % persen itu sudah besar? sudah normal? Belum tentu. Menentukan besar kecilnya harus ada tolok ukurnya. Harus ada benchamrknya yang dijadikan patokan. Benchmarknya yaitu portofolio yang lain.
  • Jika rata rata portofolio yang lain bisa menghasilkan return portofolio hingga 15 %. Maka portofolio yang hanya menghasilkan return % 10 persen tersebut perlu dievaluasi lagi. Perlu dirombak lagi. Investasi mana yang harus ditinggalkan dan investasi yang mana yang harus dipertahankan dalam portofolio.
Tujuan Investasi
  • Tujuan investai yang berbeda akan berpengaruh pada kinerja portofolio investasi yang dimiliki. Portofolio yang berorientasi pertumbuhan jangka panjang akan berbeda dengan yang berorientasi jangka pendek. Return portofolio yang kecil belum tentu buruk, tergantung pada tujuan investasi.
  • Misalnya, ketika dalam portofolio terdapat saham PT A. PT memutuskan untuk tidak membagikan dividen, laba yang ada akan dijadikan modal tambahan untuk ekspansi perusahaan. Ada kemungkinan saham PT A yang tidak membagikan dividen tersebut sahamnya dipasar modal akan semakin rendah. Bagi investor yang berorientasi return jangka pendek, itu bisa disebut dengan kerugian dan melepas saham PT A.
  • Namun bagi investor yang tujuan investasinya berorientasi jangka panjang, belum tentu merugikan. Justru akan menguntungkan karena kedepannya perusahaan tersebut akan lebih berkembang dengan tidak membagikan dividen. Tidak melihat penurunan harga saham sebagai sesuatu yang buruk dimasa depan.
Obligasi adalah istilah dalam pasar modal untuk menyebut surat pernyataan utang penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Ringkasnya, penerbit obligasi adalah pihak yang berutang dan pemegang obligasi adalah pihak yang berpiutang. Dalam obligasi, dituliskan jatuh tempo pembayaran utang beserta bunganya (kupon) yang menjadi kewajiban penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Jangka waktu obligasi yang berlaku di Indonesia umum.

Jenis obligasi tersebut, di antaranya:
  • Corporate Bonds Jenis obligasi yang diterbitkan perusahaan, baik Pemerintah (BUMN) maupun swasta. Sebagai contoh, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menerbitkan obligasi senilai Rp2 triliun pada tahun 2014 yang berjangka lima tahun.
  • Government Bonds Jenis obligasi yang diterbitkan Pemerintah. Di Indonesia obligasi jenis ini pertama kali diterbitkan pada Agustus 2006. Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, peminat obligasi ini cenderung meningkat tiap tahunnya. Obligasi yang diberi nama Obligasi Negara Ritel (ORI) diterbitkan satu seri setiap tahun.
  • Municipal Bonds Jenis obligasi yang diterbitkan Pemerintah Daerah dengan tujuan untuk membiayai pembangunan yang berhubungan kepentingan publik.
Keuntungan untuk para pemegang Obligasi:
  • Memperoleh kupon (bunga) yang terbagi atas tiga jenis, yaitu kupon tetap (fixed coupon) dan kupon mengambang (floating/variable coupon). Walaupun demikian, ada obligasi yang tak memberlakukan kupon (zero coupon bond). Imbal balik (yield) obligasi yang didapat bisa besar tergantung dari jangka waktu obligasi. Makin lama, makin besar keuntungannya.
  • Keuntungan yang diperoleh dari selisih harga obligasi (dalam persentase) setelah diperdagangkan. Misalnya, harga awal obligasi 100% (disebut harga pari). Ketika hendak dijual, harganya ternyata naik menjadi 115%. Jadi, kalau Anda menjualnya, keuntungan yang didapat 15% (istilahnya capital gain 15%).
  • Aman karena pembayaran kupon dan pokok dijamin UU No. 24 Tahun 2002/UU No. 19 Tahun 2008.
  • Kupon/bunga obligasi lebih tinggi dibandingkan bunga deposito.
  • Mudah untuk diperdagangkan di Pasar Sekunder yang diatur mekanisme Bursa Efek Indonesia (BEI) atau transaksi di luar bursa.
  • Bisa dijaminkan sebagai agunan.
Kekurangan dari Obligasi:
  • Penerbit obligasi berisiko gagal bayar dan konsekuensinya investor tak cuma tidak memperoleh untung, tetapi tak mendapatkan kembali seluruh pokok utang. Untungnya, kekurangan ini tak berlaku pada obligasi negara yang terlindungi undang-undang.
  • Rentan terhadap perubahan suku bunga, ekonomi, dan kondisi politik yang tidak stabil. Perubahan-perubahan tersebut berdampak pada pasar keuangan.
  • Menjual obligasi sebelum jatuh tempo di Pasar Sekunder menimbulkan kerugian bagi investor. Sebab harga jualnya lebih rendah dari harga belinya.

Manajemen Investasi Part 2

HUBUNGAN INVESTASI DAN PASAR MODAL

Pasar modal merupakan wadah bagi para investor untuk menanamkan modalnya agar terus berkembang. Pasar modal merupakan suatu fasilitas untuk mempemudah para investor.

Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yang beredar.

Pasar modal adalah suatu pasar yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek.

Pasar modal juga merupakan salah satu cara bagi perusahaan dalam mencari dana dengan menjual harga kepemilikan perusahaan kepada masyarakat.

Sedangkan berdasarkan undang-undang No 8 tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkan, serta lembanga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.

Para Pelaku dalam Pasar Modal
Para pemain utama yang terlibat di pasar modal dan lembaga penunjang yang terlibat langsung dalam proses transaksi atara pemain utama adalah sebagai berikut:
  • Emiten : Perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat berharga atau melakukan emisi di bursa . Dalam melakukan emisi, para emiten memilik berbagai tujuan dan hal ini biasanya sudah tertuang dalam rapat umu m pemengang saham (RUPS).
  • Investor: Pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya di perusahaan yang melakukan emisi.
  • Lembaga penunjang: Fungsi lembaga penunjang ini antara lain turut serta mendukung beroperasinya pasar modal, sehingga mempermudah baik emiten maupun investor dalam melakukan berbagai kegiatan dengan pasar modal.
Lembaga penunjang yang memegang peranan penting di dalam mekanisme pasar modal adalah sebagai berikut:
  • Penjamin emisi, lembaga yang menjamin terjualnya saham/obligasi sampai batas waktu tertentu dan dapat memperoleh dana yang diinginkan emiten.
  • Perantara perdagangan efek (pialang), perantaraan dalam jual beli efek, yaitu perantara antara penjual (emiten) dengan pembeli (investor).
  • Perdagangan broker
  • Penanggung (guarantor), lembaga penengah antara pemberi kepercayaan dengan penerima kepercayaan.
  • Perusahaan pengelola dana , mengelola surat-surat berharga yang akan menguntungkan sesuai dengan keinginan investor.
  • Kantor administrasi efek, kantor yang membantu para emiten maupun investor dalam rangka memperlancar investasinya.
Pasar modal dibedakan menjadi 2 yaitu:
- Pasar perdana
- Pasar sekunder
  • Pasar perdana (primary market), Pasar perdana adalah penawaran saham pertama kali dari emiten kepada para pemodal selama waktu yang ditetapkan oleh pihak penerbit sebelum saham tersebut belum diperdagangkan di pasar sekunder. Harga saham di pasar perdana ditentukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang go public berdasarkan analisis fundamental perusahaan yang bersangkutan.
  • Pasar sekunder (secondary market) Pasar sekunder adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli saham diantara investor setelah melewati masa penawaran saham di pasar perdana, dalam waktu selambat-lambatnya 90 hari setelah ijin emisi diberikan maka efek tersebut harus dicatatkan di bursa.
Harga saham pasar sekunder berfluktuasi sesuai dengan ekspektasi pasar.

Pihak yang berwenang adalah pialang, adanya beban komisi untuk penjualan dan pembelian, pemesananya dilakukan melalui anggota bursa, jangka waktunya tidak terbatas.

Fungsi Pasar Modal Fungsi pasar modal adalah tempat bertemunya pihak yang memiliki dana lebih (lender) dengan pihak yang memerlukan dana jangka panjang tersebut (borrower).

Pasar modal mempunyai dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan keuangan.

Fungsi ekonomi, disini pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari lender ke borrower. Dengan menginvestasikan dananya lender mengharapkan adanya imbalan atau return dari penyerahan dana tersebut. Sedangkan bagi borrower, adanya dana dari luar dapat digunakan untuk usaha pengembangan usahanya tanpa menunggu dana dari hasil operasi perusahaanya.

Fungsi keuangan, cara ini menyediakan dana yang diperlukan oleh borrower dari para lender tanpa harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva riil, hanya berupa saham.

Manajamen Investasi Part 1

INVESTASI
Menurut Sunariyah (2003:4): “Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.” Dewasa ini banyak negara-negara yang melakukan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan investasi baik domestik ataupun modal asing. Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebab kegiatan investasi akan mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan penambahan devisa.



Menurut Husnan (1996:5): “proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.” Pada umumnya manfaat ini dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya tanah, mesin, bangunan dan lain-lain.



Alasan melakukan investasi adalah sebagai berikut:
  • Produktivitas seseorang yang terus mengalami penurunan.
  • Tidak menentunya lingkungan perekonomian sehingga memungkinkan suatu saat penghasilan jauh lebih kecil dari pengeluaran.
  • Kebutuhan-kebutuhan yang cenderung mengalami peningkatan.
Tipe-tipe investor menurut profil resiko dalam berinvestasi:
  • Defensive, Investor dengan tipe defensive, investor ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari resiko sekecil apapun dari investasi yang dilakukan. Investor tipe ini tidak mempunyai keyakinan yang cukup dalam hal spekulasi, dan lebih memilih untuk menunggu saat-saat yang tepat dalam berinvestasi agar investasi yang dilakukan terbebas dari resiko.
  • Conservative, Investor dengan tipe conservative, biasanya berinvestasi untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan dengan rentang waktu investasi yang cukup panjang, misalnya, untuk pendidikan perguruan tinggi anak atau biaya hidup di hari tua. Investor tipe ini memiliki kecenderungan menanam investasi dengan keuntungan (yield) yang layak saja dan tidak memiliki resiko besar, karena filosofi investasi mereka untuk menghindari resiko. Walaupun investor conservative sering berinvestasi, investor ini umumnya mengalokasikan sedikit waktu untuk menganalisa dan mempelajari portofolio investasinya.
  • Balanced, Investor dengan tipe balanced, merupakan tipe investor yang menginginkan resiko menengah. Investor tipe ini selalu mencari proporsi yang seimbang antara resiko yang dimungkinkan terjadi dengan pendapatan yang dapat diraih. Tipikal investor ini bahwa mereka akan selalu berhati-hati dalam memilih jenis investasi, dan hanya investasi yang proporsional antara resiko dan penghasilan yang bisa diperoleh yang akan dipilih.
  • Moderately aggressive, merupakan tipe investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam menghadapi resiko. Investor ini cenderung memikirkan kemungkinan terjadinya resiko dan kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, investor dengan tipe moderately aggressive selalu tenang dalam mengambil keputusan investasi karena keputusan yang ditetapkan sudah dipikirkan sebelumnya.
  • Investor aggressive, atau biasa disebut 'pemain', adalah kebalikan dari investor conservative. Mereka sangat teliti dalam menganalisa portofolio yang dimiliki. Semakin banyak angka-angka dan fakta yang bisa dianalisa adalah semakin baik. Investor tipe ini umumnya berinvestasi dengan rentang waktu relatif pendek karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak berharap untuk merugi, namun setiap investor aggressive menyadari bahwa kerugian adalah bagian dari permainan.
Produk-produk investasi yang tersedia di pasaran antara lain:
Tabungan, Deposito, Saham, Property, Barang Koleksi,Emas, Mata Uang Asing, Obligasi, dsb



Penjelasan:
  • Tabungan dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank bersangkutan. Produk tabungan biasanya memperbolehkan kita mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
  • Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya, dalam deposito tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan, kecuali apabila uang tersebut sudah menginap di bank selama jangka waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu, tiga, enam, dua belas, sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian). Suku bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan. Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
  • Saham adalah kepemilikan atas sebuah perusahaan tersebut. Dengan membeli saham, berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut deviden. Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik dengan harga yang lebih tinggi yang selisih harganya disebut capital gain maupun lebih rendah daripada kita membelinya yang selisih harganya disebut capital loss. Jadi, keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua yaitu deviden dan capital gain.
  • Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah. Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu: Menyewakan Properti atau Menjual Properti.
  • Barang Koleksi, Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik, dan lain-lain. Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada pihak lain.
  • Emas adalah barang berharga yang paling diterima di seluruh dunia setelah mata uang asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh negara yang memiliki perekonomian yang kuat, yaitu Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7. Semakin tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, semakin tinggi pula harga emas. Selain itu harga emas biasanya juga berbanding searah dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin tinggi pula kenaikan harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan inflasi itu sendiri.
  • Mata Uang Asing Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi. Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
  • Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena sifatnya yang hampir sama dengan deposito, maka agar lebih menarik investor suku bunga obligasi biasanya sedikit lebih tinggi dibanding suku bunga deposito. Selain itu seperti saham kepemilikan obligasi dapat juga dijual kepada pihak lain baik dengan harga yang lebih tinggi maupun lebih rendah daripada ketika membelinya.

Pengelompokan jenis-jenis investasi:
  1. Deposito Berjangka - Simpanan dalam mata uang Rupiah, dengan tingkat suku bunga relative lebih tinggi dibandingkan jenis simpanan lainnya. Tersedia dalam jangka waktu 1,3, 6, 12, dan 24 bulan.
  2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) - Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan bagian dari upaya BI untuk meredam dan menstabilkan likuiditas yang ada di pasar.
  3. Saham - Surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberikan berbagai hak menurut ketentuan anggaran dasar (shares, stock ).
  4. Obligasi - Surat utang yang berjangka waktu lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu, yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat, guna pembiayaan perusahaan atau oleh pemerintah untuk keperluan anggaran belanjanya (debenture bond).
  5. Sekuritas pasar uang - Sekuritas pasar uang merupakan surat-surat berharga jangka pendek yang diperjualbelikan di pasar uang.
  6. Sertifikat hutang obligasi - Merupakan bukti kepemilikan piutang kepada pihak lain. Sertifikat ini dapat diperjualbelikan pada tingkat diskonto tertentu. Sertifikat hutang obligasi ini merupakan bentuk investasi jangka panjang.
  7. Tanah/bangunan - Investasi ini tergolong investasi dalam bentuk property, investasi ini biasanya untuk jangka waktu panjang karena mengharapkan adanya kenaikan dari nilai tanah/bangunan yang telah dibelinya.
  8. Reksa dana - Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi (Mutual Fund).

Produk perbankan
Tabungan, digunakan untuk menyimpan dana nasabah. Dapat memberikan banyak kemudahan, antara lain:
  • Likuiditas yang tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank dan ATM.
  • Kemudahan bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran (tlp, kartu kredit, dan lain-lain), penukaran uang, dan lain-lain.
  • Dijamin pemerintah.
Kekurangan:
Suku bunga yang diberikan sangat rendah, di bawah tingkat inflasi.
Bunga kena pajak 20% untuk yang di atas Rp 7,5 jt.

Rekening koran (cheque/giro), dipergunakan secara luas oleh perusahaan dan perorangan, untuk melakukan transaksi keuangan, dan kemudahannya:
  • Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank pencairan cek.
  • Kemudahan bertransaksi: pembayaran ke pihak lain tanpa menggunakan uang tunai dan tanpa harus datang ke bank.
  • Dijamin oleh pemerintah.
Kekurangan:
Tidak ada bunga, hanya terdapat jasa giro yang sangat rendah.
Bunga kena pajak 20%

Deposito berjangka, dipergunakan untuk menabung/menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu.
Kemudahan, antara lain:
  • Suku bunga yang lebih tinggi, sekitar 6%.
  • Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu tertentu.
  • Dapat dijaminkan: untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama.
  • Dijamin oleh pemerintah.
Kekurangan:
Terkena penalti, bila diambil sebelum jatuh tempo.
Bunga kena pajak 20%, di atas Rp 7,5 jt.

Rekening koran (cheque/giro) dipergunakan secara luas oleh perusahaan dan perorangan, untuk melakukan transaksi keuangan. Kemudahan, antara lain:
  • Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank pencairan cek.
  • Kemudahan bertransaksi: pembayaran ke pihak lain tanpa menggunakan uang tunai dan tanpa harus datang ke bank.
  • Dijamin oleh pemerintah. Kekurangan:
  • Tidak ada bunga, hanya terdapat jasa giro yang sangat rendah
  • Bunga kena pajak 20%.
Deposito berjangka Dipergunakan untuk menabung/menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu. Kemudahan, antara lain:
  • Suku bunga yang lebih tinggi, sekitar 6%.
  • Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu tertentu.
  • Dapat dijaminkan untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama.
  • Dijamin oleh pemerintah.
Kekurangan:
Terkena penalti, bila diambil sebelum jatuh tempo
Bunga kena pajak 20%, di atas Rp 7,5 juta.



Kesimpulan:
Dikarenakan sifatnya dan bunga yang diberikan dari suatu produk perbankan berada di bawah rate inflasi, maka produk perbankan tidak sesuai untuk dipakai sebagai alat investasi.



Reksa Dana/Unit Trust
Keunggulan:
  • Diversifikasi
  • Pilihan investasi yang beragam
  • Transparansi
  • Peraturan yang ketat
  • Biaya yang rendah (subs, redeem, management fee)
  • Keuntungan pajak (untuk di Indonesia saat ini)
  • Minimum investasi yang rendah.
Jangka Waktu Investasi:
  • Investasi jangka panjang Dengan jangka waktu minimal 5 tahun, maka beberapa pilihan investasi yang mungkin adalah rumah,emas,asuransi,saham atau reksadana. Untuk reksadana, ada baikmya menjatuhkan pilihan kepada reksadana saham disebabkan nilai masa depan yang akan bertambah. Karena secara teori, perekonomian diharapkan akan semakin baik di masa depan, sehingga reksadana saham pun prospektif untuk tipe jangka panjang. Selain itu, tingkat fluktuatif yang tinggi dari saham namun secara kecenderungan akan tetap naik. Untuk asuransi, jangan sampai terjebak dengan iming-iming mendapatkan claim yang besar, apalagi jika kita sudah tercover dalam asuransi di kantor. Sebisa mungkin pisahkan antara urusan asuransi dengan investasi supaya fokus sesuai dengan tujuan masing-masing.
  • Investasi jangka menengah Dengan jangka antara 1 hingga 5 tahun, maka beberapa pilihan nvestasi yang mungkin adalah emas, asuransi, atau reksadana. Untuk reksadana, pilihan bisa jatuh pada reksadana jenis campuran. Dengan tingkat resiko yang lebih kecil dari reksadana saham.namun tingkat fluktuatifnya tidak sedramatis reksadana saham.
  • Investasi jangka pendek Dalam jangka maksimal 1 tahun, maka pilihan investasi yang mungkin adalah deposito atau reksadana.
Tujuan investasi pada umumnya adalah memenuhi kebutuhan atau keinginan yang kita harapkan. Pemenuhan kebutuhan dan keinginan tersebut guna meningkatkan kualitas hidup.

Apabila meninjau motif dari kelompok-kelompok masyarakat yang melakukan investasi, maka ada tiga alasan kelompok masyarakat melakukan investasi, yaitu:
  • Untuk mendapatkan pendapatan yang tetap dari hasil investasi pertahunnya
  • Untuk jangka panjang dan memberikan hasil yang besar di masa yang akan dating
  • Untuk kepentingan pendapatan yang tetap
Keuntungan dalam berinvestasi saham, pada dasarnya ada 3 keuntungan yang akan diperoleh oleh pemodal dengan membeli atau memiliki saham, yaitu:
  • Dividen Yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan, deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Deviden yang dibagikan perusahaan dapat berupa devien tunai artinya kepada setiap pemegang saham diberikan deviden berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa deviden stock yang artinya setiap pemegang saham diberikan deviden sejumlah saham sehingga sejumlah saham yang dimiliki investor bertambah dengan adanya pembagian dividen stock tersebut.
  • Capital gain Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual, dimana harga jual lebih tinggi dari harga beli, capital gain terbentuk dengan adanya aktifitas perdagangan di pasar sekunder. (saham yang diperjual belikan dan berpindah tangan dari seorang investor ke investor lainnya).
  • Saham bonus Saham bonus (jika ada) yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham yang diambil dari agio saham. (Agio Saham adalah selisih lebih setoran pemegang saham diatas nilai nominalnya dalam hal saham dikeluarkan dengan nilai nominal)
Exp: Nominal saham seharga Rp1.000 dengan nilai jual saham portopel sebesar Rp5.000, yang sebesar Rp4.000 itu yang disebut agio saham.

Perbedaan Investasi Jaman dahulu dan Jaman Sekarang, faktor yang dapat mempengaruhi investasi yang dijadikan bahan pertimbangan investor dalam menanamkan modalnya, antara lain :
  • Faktor Sumber Daya Alam,
  • Faktor Sumber Daya Manusia,
  • Faktor stabilitas politik dan,
  • Faktor Pertumbuhan perekonomian, guna menjamin kepastian dalam berusaha,
  • Faktor kebijakan pemerintah,
  • Faktor kemudahan dalam peizinan
Jadi perbedaan investasi antara jaman dahulu dan sekarang bisa dilihat dari berbagai macam pertimbangan investor diatas, misalnya :
  • Faktor sumber daya manusia, jaman dahulu faktor sumber daya manusia yang berpartisipasi di dalam sebuah organisasi perusahaan masih kurang mahir, sedangkan jaman sekarang karena globalisasi dan teknologi semakin berkembang maka sumber daya manusia pun akan semakin baik pula.
  • Faktor stabilitas politik dan kemudahan dalam perizinan, jaman dahulu politik di indonesia sangatlah tidak stabil ditambah dengan adanya inflasi pada tahun 1990-an yang membuat para investor enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia selain itu perizinan untuk menginvestasikan modal (khususnya untuk para investor asing) sangatlah susah untuk menembus masuk ke dalam negeri.
  • Sedangkan untuk jaman sekarang politik sudah bisa dikatakan stabil, dan untuk pemodal asing pemerintah telah memberkan kelonggaran dengan diterbitkannya UU Penanaman Modal Asing (UU No. 1/1967) untuk menarik investasi asing guna membangun ekonomi nasional. Di Indonesia adalah wewenang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk memberikan persetujuan dan ijin atas investasi langsung luar negeri.